RISALAH – KABAR MERDEKA | Pernahkah kita bertanya mengapa hati terasa keras, iman melemah, dan semangat beribadah menurun? Salah satu obat terbaiknya adalah mengingat kematian. Di balik setiap nisan terdapat pelajaran bahwa siapa pun, setinggi apa pun kedudukannya, sekaya apa pun hartanya, dan sepanjang apa pun angan-angannya, pada akhirnya akan kembali kepada Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS Āli ‘Imrān [3]: 185).
Abu Darda’ radhiyallāhu ‘anhu berkata:
كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا، وَكَفَى بِالدَّهْرِ مُفَرِّقًا
“Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat, dan cukuplah perjalanan waktu sebagai pemisah.” (Lathā’if al-Ma‘ārif, hlm. 100).
Mengingat kematian bukanlah untuk membuat seseorang berputus asa, melainkan agar lebih serius mempersiapkan bekal akhirat, memperbanyak amal saleh, dan menjauhi maksiat. Oleh karena itu, luangkanlah waktu untuk merenungi hakikat kehidupan, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, serta menyadari bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara.
Semoga Allah ﷻ melembutkan hati kita, menjadikan kematian sebagai nasihat yang menghidupkan iman, dan menganugerahkan kepada kita husnul khātimah. Āmīn.
Allāhu Ta‘ālā a‘lam biṣhawāb.***














