RISALAH – KABAR MERDEKA | Setiap orang tentu senang jika usahanya dihargai. Namun, hati-hatilah ketika keinginan untuk diapresiasi berubah menjadi rasa paling berjasa, paling hebat, dan selalu ingin diakui. Jika tidak dijaga, hal ini bisa menjadi pintu masuk kesombongan yang menghapus pahala amal saleh.
Islam mengajarkan agar setiap kebaikan dilakukan dengan ikhlas karena Allah ﷻ, bukan untuk mencari pujian manusia. Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ
“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (QS Luqmān [31]: 18).
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR Muslim: 91).
Kesombongan bukan hanya tentang penampilan atau harta, tetapi juga ketika seseorang menolak kebenaran dan merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Ingatlah kisah Qarun yang dibinasakan karena membanggakan kekayaan dan menganggap semua keberhasilannya berasal dari dirinya sendiri.
Karena itu, jangan sampai tepuk tangan manusia membuat kita lupa bahwa semua nikmat berasal dari Allah ﷻ. Perbanyak bersyukur, luruskan niat, dan teruslah beramal dengan penuh kerendahan hati. Semoga Allah ﷻ menjaga hati kita dari penyakit sombong dan menjadikan setiap amal yang kita lakukan diterima di sisi-Nya.
Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.(redaksi)***


