RISALAH – KABAR MERDEKA | Banyak orang ingin hijrah dan merasakan nikmat iman. Namun, hijrah tidak akan terasa indah jika dijalani setengah-setengah. Hijrah bukan sekadar hadir di kajian, tetapi perubahan nyata dalam sikap dan perbuatan.
Jika ingin merasakan nikmat iman yang sebenarnya, jangan mencicil hijrah. Jangan mencampur ketaatan dengan kemaksiatan. Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan) dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui(-nya).” (QS Al-Baqarah [2]: 42).
Datang ke kajian, tetapi masih pacaran atau berboncengan dengan lawan jenis yang belum halal, adalah bentuk mencampuradukkan kebaikan dengan maksiat. Walaupun niatnya baik dan penampilan sudah terlihat agamis, jika belum sesuai syariat, maka tetap harus ditinggalkan.
Dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya:
“Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula.” (HR. Bukhari no. 52).
Hijrah menuntut ketegasan dalam meninggalkan yang haram. Selama kita masih membuka pintu maksiat, selama itu pula nikmat iman tidak akan terasa sempurna.
Jika sudah memilih hijrah, hijrahlah sepenuh hati. Tinggalkan maksiat dan kuatkan ketaatan. Jangan sibuk memikirkan penilaian manusia, fokuslah mengejar ridha Allah. Semoga Allah memudahkan hijrah kita dan menghadirkan nikmat iman yang sebenarnya.***













