KABAR – MERDEKA | Pernahkah kita bertanya dalam hati, mengapa ada orang yang jauh dari Allah ﷻ tetapi hidupnya terlihat lapang, sementara ada yang beriman justru diuji dengan kesempitan? Pertanyaan ini sering muncul, dan jika tidak dipahami dengan ilmu, bisa menggoyahkan hati.
Sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk adil dan jujur dalam menilai. Tidak tepat membandingkan orang beriman yang sedang diuji dengan orang lain yang hidupnya berkecukupan tanpa melihat latar belakang dan keadaannya. Ketakwaan kepada Allah ﷻ tidak selalu langsung terlihat dari harta dan kemudahan dunia. Ketika orang beriman diuji, sejatinya Allah ﷻ sedang membersihkan dan meninggikan derajatnya. Dunia bukan ukuran cinta Allah ﷻ, karena dunia bisa diberikan kepada siapa saja. Namun iman dan agama hanya Allah ﷻ berikan kepada hamba yang dicintai-Nya. Maka jangan menilai nikmat hanya dengan apa yang tampak di mata, tetapi lihat dengan ilmu dan keimanan.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. (QS Aṭ-Ṭalāq [65]: 2-3)
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ ، وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ
“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.” (Diriwayatkan oleh Al Maruzi dalam Zawaiduz Zuhd, Ibnu Abi Syaibah 3/294)
Mari luruskan cara pandang kita. Jika Allah ﷻ menjaga iman kita, itu adalah nikmat terbesar. Tetaplah bersabar, perbaiki takwa, dan jangan iri pada kenikmatan yang bisa jadi hanya sementara. Semoga Allah ﷻ menjaga hati kita agar selalu ridha dan yakin pada ketetapan-Nya.(khb)***













