Example floating
Example floating
Telusur

Gunung Masigit Di Banjarwangi Garut Jawa Barat

427
×

Gunung Masigit Di Banjarwangi Garut Jawa Barat

Sebarkan artikel ini

GARUT – KABAR MERDEKA | Perjalanan wartawan
Bratalegawa News ke timur Priangan mentok di satu wilayah sudut utara Kabupaten Garut. Daerah Banjarwangi namanya, atau tepatnya di Kampung Masigit Desa Padahurip Kacamatan Banjarwangi. Duduk-duduk melepas lelah di punggung salahsatu gunung yang ternyata, ya inilah Gunung Masigit itu, gunung yang ditengarai sebagai mesjid kuno dan hilang ditelan masa, lalu berubah menjadi sebuah gunung atau tepatnya sebuah bukit.

Kemudian teampun kembali meneruskan perjalanan menuju arah landai jalan setapak. Yang dituju adalah balai rangon milik Bah Sarkundang, 53 tahun, kenalan team Bratalegawa News. lalu perbincangan pun berlanjut seru setelah perut yang kroncongan dan tenggorokan yang nyaris dehidrasi disiram serta diseduh air kelapa muda. Tentu di balainya Bah Sarkundang, ujung kampung tapalbatas kaki gunung wilayah Banjarwangi.

iklan layanan masyarakat
© kabarmerdekanews.com

“Dusun ini bernama kampung Masigit, nama yang sebenarnya melekat pada sebuah bukit di sini, di Padahurip,”katanya dengan kepulan asap tembakau tampang cap tengkorak senyum. Sewaktu team memintanya untuk menerangkan hal-hal yang bertalian dengan toponim Gunung Masigit, Bah Sarkundang seolah terpompa semangat. Ia bertutur sebagaimana tutur-tutur tinular yang ia dengar dari ayah mertua serta kakeknya.

Gunung Masigit adalah gunung kecil yang mencuat mungil di antara gugusan gunung pasak wilayah Garut yang melintasi daerah Cikajang. Nama masigit itu sendiri mewakili bentuk serta rancang alam yang menyerupai Masigit atau mesjid. Ada mihrab di area barat, kedua sayap di sebelah kiri-kanan bangunan inti juga seolah ada ruang beranda di sebelah timur sekaligus deretan toilet jadul. Mengamati uraian bentuk mesjid tersebut, teampun diingatkan pada bentuk rumah khas Priangan bercorak ‘julang ngapak’.

Baca Juga  Warga Binaan Lapas Kelas IIB Garut Dapat Penyuluhan Bahaya Penyakit Menular HIV AIDS

Ada lagi informasi lainnya tentang Gunung Masigit tersebut, tutur Bah Sarkundang. Bahwa asal-muasalnya adalah sesosok bangunan masjid kuno yang tertimbun serta terkubur ratusan tahun hingga kini. Ada beberapa alasan mengapa gunung tersebut ditinggalkan oleh warga sekitar kala itu, kata Bah Sarkundang kemungkinan hijrah masal mengikuti penguasa daerah ke pusat kota atau bisa saja menghindari bencana longsor. Akhirnya mesjid tersebut terisolir kehilangan jemaah dan daerah di sekelilingnya kehilangan penghuni. Masjid pun lambat-laun terurug tanah, daun-daun kering juga serpihan-serpihan sampah hutan raya, hingga akhirnya menjelma sebuah bukit.

Keunikan dan keanehan apa saja di Gunung Masigit itu? Ada banyak cerita tentang keistimewaannya, Bro, demikian kata Bah Sarkundang mantap. Gunung Masigit saling berhadapan dengan Gunung Cikuray di Cikajang. Gunung tinggi besar ini ternyata tidak lebih tinggi dari Gunung Masigit dan besar dari Gunung Masigit ketika dipersamakan lewat hitungan dan teropong.

Yang kedua, di sebrang selatan terdapat juga Gunung Lumbung yang tinggi dan terjal akan tetapi ketika diukur dan disejajarkan, dengan Gunung Masigit ternyata sama, baik ketinggiannya maupun luasnya. Padahal Gunung Cikuray Cikajang tersebut, lebih dikenali warga sebagai gunung besar dan legend tempat berhulunya dua sungai besar yaitu Sungai Cimanuk yang mengular ke area dataran rendah daerah pesisir Cirebon. Sedangkan yang satunya lagi Sungai Cikarengan yang melolos ke area dataran rendah wilayah Maroko lalu menyusup di Pameungpeuk, bermuara di pesisir sana, jelasnya di pantai laut selatan.

Ada cerita unik di lintas lebih dari satu dasawarsa lalu, kata Bah Sarkundang menerawang ke belakang. Pernah kejadian sebagian warga menebang serta menguliti pohon besar di area as puncak Gunung Masigit, lalu ditinggalkan oleh karena waktu itu menyudut ke Maghrib. Dan warga kembali lagi pada besok harinya. Betapa semua terkejut keheranan, karena pohon besar itu telah kembali berdiri kokoh pada tempatnya semula, bahkan kulit bawahnya yang telah dikuliti, kembali menutupi batang-batang pohonnya. Nah, oleh karena itu, pohon besar itu tidak lagi diganggu untuk ditebang atau sekedar dikuliti, sebaliknya semua warga sekitar Gunung Masigit kini merawatnya dengan penuh rasa tanggungjawab. Ternyata usut punya usut, pohon besar di as puncak gunung tersebut berupa menara mesjid yang telah ‘menggunung’ itu.(Emha)***