Setiap orang pasti pernah menghadapi ujian. Ada yang diuji dengan sakit, kesulitan ekonomi, kehilangan orang yang dicintai, masalah keluarga, atau berbagai kesulitan lainnya. Lalu muncul pertanyaan, benarkah semua ujian itu baik?
Bagi seorang mukmin, setiap ujian yang Allah berikan mengandung kebaikan jika dihadapi dengan sabar, ikhtiar, dan terus memohon pertolongan kepada-Nya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” (HR Bukhari no. 5642)
Allah ﷻ juga berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar,” (QS Al-Baqarah [2]: 155).
Karena itu, jangan terburu-buru berprasangka buruk kepada Allah saat ujian datang. Hadapilah dengan doa, kesabaran, dan usaha yang maksimal. Setiap kali satu masalah selesai, mungkin akan datang ujian berikutnya. Itulah bagian dari kehidupan yang dapat menjadi jalan penghapus dosa dan pengangkat derajat seorang hamba.
Semoga Allah memberikan kepada kita hati yang sabar, lisan yang selalu berdoa, serta kekuatan untuk menghadapi setiap ujian hingga kelak bertemu dengan-Nya dalam keadaan terbaik. Āmīn.
Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.***














