RISALAH – KABAR MERDEKA | Keteladanan akhlak Nabi Muhammad ﷺ begitu agung, hingga tercermin dalam keseharian beliau bersama para pembantunya. Anas bin Mālik raḍiyallāhu ‘anhu, yang melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun sejak usia sembilan tahun, bersaksi bahwa beliau tidak pernah sekalipun mengucapkan kata kasar, memarahi, atau menyalahkannya—meski dalam keadaan lalai. Bahkan ketika Anas terlupa menjalankan perintah karena bermain, Nabi hanya memanggilnya dengan lembut, “Yā Unais” (panggilan sayang), dan menasihatinya dengan senyum.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ:
“خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، وَاللَّهِ مَا قَالَ لِي: أُفٍّ قَطُّ، وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا؟ وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا؟”
Dari Anas bin Mālik, ia berkata: “Aku melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Demi Allah, tidak pernah sekalipun beliau berkata kepadaku: ‘Uff (ah),’ dan tidak pernah berkata kepadaku untuk sesuatu: ‘Mengapa kamu lakukan ini?’ atau ‘Mengapa kamu tidak melakukan itu’?” (HR Bukhari, no. 1973).
Kisah ini memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang lain—terutama keluarga, bawahan, atau pekerja rumah tangga—dengan kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang. Semoga Allah menanamkan dalam diri kita akhlak mulia dan memudahkan kita meneladani Rasulullah ﷺ.
(Red)***













