RISALAH – KABAR MERDEKA |Seorang ayah, meski diam dan tak banyak kata, sebenarnya sedang memikul dunia di pundaknya. Ia jarang mengeluh, tak sering bicara, tapi cinta dan perhatiannya terasa dalam tindakan kecil yang sering luput kita sadari.
Di balik wajah yang tenang, sering kali pikirannya tak berhenti berjuang tentang bagaimana mencukupi, melindungi, dan membahagiakan keluarganya.
Pesan sederhana dari seorang ayah seperti:
“Sudah shalat?”
“Sudah makan?”
Bukan hanya basa-basi, tapi wujud cinta dalam bentuk paling sederhana—dan paling tulus.
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam kasih sayang terhadap keluarga.
كان أرحمَ النّاسِ بالصِّبيانِ والعِيالِ
“Rasulullah adalah orang yang paling penyayang kepada anak-anak dan keluarga.” (HR Bukhari dalam kitab Al-Adab al-Mufrad: 376).
Lihatlah bagaimana Nabi Nuh tetap memohon kepada Allah untuk menyelamatkan anaknya:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنَادٰى نُوْحٌ رَّبَّهٗ فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابْنِيْ مِنْ اَهْلِيْۚ وَاِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَاَنْتَ اَحْكَمُ الْحٰكِمِيْنَ
Nuh memohon kepada Tuhannya seraya berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” (QS Hūd [11]: 45)
Itulah cinta seorang ayah. Tak selalu tampak di permukaan, tapi tertanam dalam doa dan usaha tanpa suara.
Jangan tunggu hari tua untuk memahami betapa besar cinta dan perjuangan ayah.
Doakan ia, peluk ia, dan katakan terima kasih sebelum terlambat.
Karena, saat kita tidur nyenyak, bisa jadi ayah masih terjaga memikirkan bagaimana hidup kita tetap nyaman esok hari.***
(Red/Lg)













