Link YouTube:
https://youtube.com/shorts/D5PY9VZM9yw
Sebagai seorang Muslim, satu-satunya guru dan panutan utama kita di muka bumi ini adalah Nabi Muhammad ﷺ. Hakikat sebagai umat yang setia adalah mencukupkan diri dengan mengikuti apa yang telah beliau contohkan. Istilah perayaan “tahun baru”—termasuk peringatan khusus pada 1 Muharram—sebenarnya tidak pernah dikenal dalam syariat Islam, melainkan mengadopsi kebiasaan dari kaum non-Muslim.
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari perkara (urusan agama) kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim: 1718)
Rasulullah ﷺ hidup di Madinah sejak tahun pertama Hijriah hingga tahun ke-11 Hijriah saat beliau wafat. Sepanjang rentang waktu tersebut, tidak ada satu pun riwayat yang menyebutkan bahwa beliau pernah merayakan pergantian tahun. Islam telah menetapkan bulan-bulan yang dimuliakan serta bentuk ibadah yang memiliki dalil yang jelas. Mengadakan ritual atau acara khusus tanpa adanya tuntunan syar’i dikhawatirkan justru dapat melanggar Sunnah Rasulullah ﷺ.
Mari kita belajar untuk teguh di atas prinsip agama dan tidak sekadar ikut-ikutan merayakan sesuatu hanya karena kaum lain merayakannya. Menjaga kemurnian amal sesuai dengan petunjuk Nabi ﷺ adalah jalan keselamatan yang terbaik bagi setiap Muslim.
Allāhu a‘lam bish-shawāb.***














