RISALAH – KABAR MERDEKA | I’tikaf adalah ibadah mulia dengan berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Salah satu waktu terbaiknya adalah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Momen ini merupakan ajang perjuangan untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadar. Meski durasi terbaik adalah sepuluh hari penuh sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ, Anda tetap bisa melaksanakannya sesuai kemampuan—mulai dari beberapa jam hingga beberapa malam—asalkan diniatkan tulus untuk mencari ridha-Nya.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
تَحَرُّوْا لَيْلةَ الْقَدَرِ فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.
“Carilah lailatul qadr pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR Bukhari: 987 & 2020 dan At-Tirmidzi:789)
Dalam riwayat lain:
تَحَرُّوا لَيْلةَ الْقَدَرِ فيِ الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.
“Carilah Lailatul qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR Bukhari: 2017 dan Muslim: 1169)
Sangat penting bagi kita untuk menjaga keikhlasan niat agar i’tikaf tidak sekadar menjadi tren atau seremoni sosial semata. Hindari menyibukkan diri dengan gawai atau membuat dokumentasi yang justru mendekatkan diri pada sifat riya. Fokuslah beribadah dan jadikan setiap detik di dalam masjid sebagai sarana evaluasi diri serta peningkatan kualitas iman secara personal, bukan sekadar mengikuti tren.
Selama i’tikaf, maksimalkan waktu dengan zikir, salat, dan membaca Al-Qur’an, serta kurangi aktivitas yang kurang bermanfaat seperti tidur berlebihan atau mengobrol. Jagalah kesucian ibadah ini dengan menjauhi segala bentuk maksiat, baik lisan maupun perbuatan. Kedisiplinan dalam beribadah menjaga diri dari melakukan maksiat adalah kunci utama agar kita bisa mendapatkan pahala maksimal dan menjadi pribadi yang lebih bertakwa.***











