RISALAH – KABAR MERDEKA | Pernahkah kita membayangkan, jika hari ini adalah kesempatan terakhir yang Allah ﷻ beri untuk hidup kembali? Pertanyaan sederhana ini sering kali cukup untuk menggugah hati yang mulai lalai dan menunda taubat.
Sering kali manusia berharap ada sesuatu yang tiba-tiba menghentikannya dari dosa. Seakan menunggu pertolongan datang tanpa usaha. Padahal, jika orang yang telah meninggal diberi kesempatan hidup kembali, yang ia cari bukanlah dunia, bukan kesenangan, dan bukan urusan duniawi. Yang ia lakukan hanyalah memperbanyak amal yang bisa menyelamatkannya di akhirat. Taubat, istighfar, shalat, dan memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ.
Allah ﷻ telah menetapkan bahwa orang yang mati tidak akan kembali ke dunia. Maka jadikanlah diri kita seolah-olah sedang diberi kesempatan terakhir untuk hidup. Jangan menunggu penyesalan datang di akhir. Para dai hanya bisa menyampaikan, selebihnya keputusan ada pada diri kita masing-masing. Jangan menunda taubat, karena hidayah itu dijemput, bukan ditunggu.
Allah ﷻ berfirman:
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Āli ‘Imrān [3]: 133)
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ, lalu seorang Anshar mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik? Beliau bersabda, Yang paling baik akhlaknya. Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian. Itulah mereka orang-orang yang paling cerdas.” (HR Ibnu Majah)
Semoga Allah ﷻ melembutkan hati kita, menguatkan langkah kita untuk bertaubat, dan menjadikan hidup ini penuh makna dengan ketaatan sebelum datang waktu yang tidak bisa ditunda lagi.***













