RISALAH – KABAR MERDEKA | Menoleh saat shalat bukan sekadar gerakan ringan, melainkan bentuk “kecopetan” yang menggerogoti pahala dan kekhusyukan tanpa disadari. ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menyebut perbuatan menoleh dalam shalat sebagai ikhtilās, yaitu pencurian cepat yang dilakukan setan dari shalat seorang hamba. Rasulullah ﷺ bersabda:
هو اخْتِلاسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطانُ مِن صَلاةِ العَبْدِ
“Itu adalah ikhtilas (pencurian cepat) yang dilakukan setan dari shalat seorang hamba.” (HR Bukhari: 751).
Maksudnya, setan mencuri kekhusyukan dan ketundukan hati ketika seorang muslim lalai di hadapan Rabb-nya, padahal Allah senantiasa menghadapkan perhatian-Nya kepada hamba selama ia tidak menoleh. Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ يَزَالُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُقْبِلاً عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ فِي صَلاَتِهِ، مَا لَمْ يَلْتَفِتْ، فَإِذَا الْتَفَتَ انْصَرَفَ عَنْهُ
“Allah senantiasa memperhatikan hamba-Nya saat shalat selama ia tidak menoleh. Bila ia menoleh, maka Allah akan meninggalkannya.” (HR Abu Dawud: 909, dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah serta Adz-Dzahabiy).
Oleh karena itu, marilah kita menjaga adab dalam shalat, menghadirkan hati, dan menunaikannya seakan itulah shalat terakhir kita. Semoga Allah melindungi kita dari gangguan setan dan mengaruniakan kekhusyukan dalam ibadah.***













