RISALAH – KABAR MERDEKA | Setiap orang pasti ingin usahanya maju dan hartanya bertambah. Namun, tidak semua sadar bahwa keberkahan itu bukan hanya soal nominal yang besar, tapi tentang cara mendapatkannya. Banyak orang mengira selama uang mengalir, itu sudah tanda sukses. Padahal, jika didapat dengan cara yang curang, harta itu justru bisa menjadi sumber masalah dan hilang keberkahannya.
Ketika harta dan jabatan jadi tujuan utama, banyak orang rela menghalalkan segala cara seperti penipuan, pemalsuan data, bahkan penumpahan darah. Uang haram yang didapat dari cara seperti ini mungkin terlihat besar, tapi keberkahannya hilang. Harta tersebut tidak akan menenangkan hati, malah sering membawa masalah baru.
Padahal, Nabi ﷺ sudah memberikan pedoman dalam bermuamalah. Dari sahabat Hakim bin Hizam, Nabi ﷺ bersabda:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا – أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا – فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
“Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu.” (HR Bukhari: 2079 dan Muslim: 1532).
Hadits ini mengajarkan, kejujuran adalah kunci keberkahan. Sekalipun nilai transaksi kecil, bila dijalani dengan jujur, akan membawa kebaikan yang berkelanjutan. Sebaliknya, jika ada kebohongan dan kecurangan, keberkahan akan terhapus meski nilainya miliaran.
Keberkahan bukan diukur dari jumlah harta, tapi dari cara mendapatkannya dan bagaimana ia digunakan. Jika jalannya halal, sedikitpun terasa cukup. Namun jika jalannya haram, sebanyak apapun akan terasa kurang dan hanya mengundang kesengsaraan.(red/lg)***











