RISALAH – KABAR MERDEKA | Coba bayangkan jika seseorang divonis dokter bahwa hidupnya tinggal dua jam lagi. Kira-kira bagaimana ia akan beribadah? Tentu shalatnya akan lebih khusyuk, doanya lebih sungguh-sungguh, dan hatinya benar-benar hadir. Karena ia merasa itu mungkin ibadah terakhir dalam hidupnya.
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan agar kita shalat seperti shalat perpisahan, seolah-olah itu adalah shalat terakhir kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ
“Apabila engkau berdiri dalam shalatmu, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah (dengan dunia).” (HR Ibnu Majah dan Ahmad, dishahihkan Al-Albani).
Jika kita benar-benar meyakini bahwa ini mungkin shalat terakhir, tentu kita tidak akan tergesa-gesa, tidak lalai, dan tidak meremehkannya. Kita juga tidak akan menunda ibadah, karena kita sadar kematian bisa datang kapan saja. Sering kali kita lalai karena merasa masih punya banyak waktu. Padahal malaikat maut tidak pernah menunggu kita siap.
Karena itu, biasakanlah beribadah dengan kesungguhan seolah-olah ini adalah kesempatan terakhir kita. Jangan menunggu sakit, musibah, atau saat kematian sudah terasa dekat. Bisa jadi, hari ini adalah hari terakhir kita. Maka jangan sampai kita menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan untuk beribadah.
Allāhu Ta’ālā a’lam bishawāb.***














