Example floating
Example floating
Risalah

Agar Ibadah Kita Diterima, Ini Kuncinya!

209
×

Agar Ibadah Kita Diterima, Ini Kuncinya!

Sebarkan artikel ini

RISALAH – KABAR MERDEKA |   Kunci ibadah adalah ikhlas, i’tiba dan ihsan.

iklan layanan masyarakat
© kabarmerdekanews.com

Ikhlas
Ikhlas adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala seraya mengharap rido-Nya. Allah berfirman :
“Wamaa umiruu illaa liya’budullaaha mukhlishiina lahuddiin…” (Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati – Nya semata – mata hanya (menjalankan) agama…). (QS.Al Bayyinah ayat 5).

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh An – Nasa’i, suatu saat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wasallam didatangi seorang lelaki, lelaki itu bertanya ;”Ya Rasulullah bagaimana jika ada seseorang yang berjihad di jalan Allah namun niatnya untuk mendapatkan pahala dan ketenaran?” Nabi SAW menjawab; “Dia tidak akan mendapatkan apa- apa! Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali yang dilaksanakan dengan ikhlas dan mengharap rido – Nya.”

Dari penjelasan hadits ini jelas bahwa amal yang akan diterima itu saratnya harus ikhlas (semata – mata karena Allah) seraya mengharap rido-Nya.

Ikhlas adalah konsep penting dalam agama Islam yang berarti melakukan sesuatu dengan niat yang murni dan tulus, semata-mata karena Allah SWT, tanpa mengharapkan pujian atau imbalan.

Ciri – ciri Ikhlas
1. Ikhlas dimulai dengan niat yang murni dan tulus untuk melakukan sesuatu karena Allah SWT.
2. Ikhlas tidak mengharapkan pujian atau pengakuan dari orang lain.
3. Ikhlas tidak mengharapkan imbalan atau keuntungan duniawi.

Manfaat Ikhlas
1. Ikhlas dapat meningkatkan kualitas iman dan taqwa seseorang.
2. Ikhlas dapat membantu seseorang mendapatkan pahala dan ganjaran dari Allah SWT.
3. Ikhlas dapat membantu menghilangkan sifat riya (pamer) dan sifat-sifat negatif lainnya.

Cara Meningkatkan Ikhlas
1. Meningkatkan kesadaran akan kehadiran Allah SWT dalam setiap tindakan.
2. Menghilangkan niat duniawi dan  pahala dari Allah SWT.
3. Berdoa dan bermuhasabah untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa.

Baca Juga  Ini Dia Orang yang Terakhir Masuk Surga

Dengan melakukan ikhlas, seseorang dapat meningkatkan kualitas iman dan taqwa, serta mendapatkan pahala dan ganjaran dari Allah SWT.

I’tiba
I’tiba adalah melaksanakan amalan sesuai tuntunan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wasallam. Apa yang dicontohkan atau diajarkan Rasulullah melalui hadits – haditsnya yang sohih maka laksanakan dan ikuti, mana yang tidak ada contohnya dari Rasulullah (tidak ada dalilnya yang sohih), maka tinggalkan, jangan diikuti.Itu prinsip ibadah yaitu harus mengacu kepada nash atau dalil (baik Al Quran, hadits maupun ijma ulama salafus soleh).
Dalam konteks agama Islam, i’tiba memiliki beberapa makna, antara lain:

1.I’tiba dapat berarti mengikuti jejak atau sunnah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.
2. I’tiba juga dapat berarti mengambil pelajaran atau hikmah dari pengalaman dan peristiwa masa lalu.

Dalam prakteknya, i’tiba dapat diwujudkan dengan:

1. Mempelajari dan mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.
2. Mengambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman dan peristiwa masa lalu untuk meningkatkan kualitas iman dan amal.

Dengan melakukan i’tiba, seseorang dapat meningkatkan kualitas iman dan taqwa, serta mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT.

Ihsan
Ihsan dalam beribadah adalah selalu merasa dalam pengawasan Allah Subhanahu wata’ala.
Sejumlah ayat Al Quran menegaskan :
“Sesungguhnya Allah tidak lengah terhadap apa yang kita kerjakan” (Wamallaahu bighaafilin ‘ammaa ta’ maluun). (QS. Al – Baqarah 73). 

“Dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu rahasiakan” (Wa a’lamu maa tubduuna wamaa kuntum taktumuuna). (QS. Al – Baqarah 33).

“Bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan” (Ya’lamu maa yusirruuna wamaa yu’linuun). (QS. Al – Baqarah 77).

“…Dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat padanya dari urat lehernya sendiri…” (Wana’lamu maa tuwaswisu bihii nafsuhuu wanahnu aqrabu ilaihi min hablil wariidi). (QS.Qaf ayat 16).

Cukup jelas penegasan Allah SWT bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan. Semuanya tidak luput dari pengawasan – Nya. Bahkan Allah juga punya petugas yang selalu mencatat perilaku kita, baik perilaku amal baik maupun amal buruk, yaitu malaikat Roqib (pencatat kebaikan) dan malaikat ‘Atid (pencatat kejahatan).

Baca Juga  Hati - hati Perbuatan Tathayyur

Allah berfirman : “Maa yalfidzu min qaulin illaa ladaihi raqiibun ‘atiidun” (Tidak ada satu katapun yang diucapkan oleh manusia, melainkan didekatnya ada pengawas, yakni malaikat Raqib dan ‘Atid). (QS.Qaf ayat 18).

Walaahu A’lam bish – shawab.***

#liliguntur