RISALAH – KABAR MERDEKA | Ikhlas dan riya adalah dua hal yang saling berlawanan dan tidak akan pernah bisa bersatu di dalam hati seorang hamba. Sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa menjaga kemurnian niat adalah perjuangan yang berkesinambungan; ibadah yang awalnya ditunaikan dengan tulus bisa seketika gugur pahalanya hanya karena luapan cerita singkat demi mengharapkan pujian manusia.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbuatan kecuali yang murni (ikhlas) untuk-Nya dan hanya mengharapkan rida-Nya.” (HR. An-Nasa’i no. 3140)
Hadits ini secara tegas mengingatkan bahwa keikhlasan merupakan syarat mutlak diterimanya sebuah amalan di sisi Allah ﷻ. Riya atau pamer—sekecil apa pun bentuknya—adalah bagian dari syirik kecil yang langsung membatalkan pahala ibadah yang telah kita perjuangkan dengan letih. Menepis bisikan riya dapat dimulai dengan menanamkan logika sederhana bahwa pujian manusia itu tidak mendatangkan manfaat bagi kita dan hanya akan merugikan kita.
Mari kita bentengi diri dan setiap aktivitas ibadah kita dari celah-celah riya dengan senantiasa meluruskan niat hanya untuk mengejar penilaian-Nya. Semoga Allah ﷻ mengaruniakan kekuatan kepada kita untuk menjaga keikhlasan hati, menjauhkan kita dari penyakit rindu pujian, serta menerima setiap sujud dan amal shalih yang kita tegakkan.
Allāhu a‘lam bish-shawāb.***














