RISALAH – KABAR MERDEKA | Pernah tidak kita merasa, saat sakit atau lemah, justru kita jadi jauh dari maksiat? Tidak nongkrong, tidak pergi ke tempat yang biasa kita datangi untuk hal yang kurang baik. Ternyata, itu bukan sekadar kebetulan.
Bisa jadi, itu adalah bentuk kasih sayang Allah. Saat kita diuji dengan sakit, lemah, atau kondisi tertentu, Allah sedang “menghentikan” kita dari dosa. Aktivitas maksiat yang biasa kita lakukan jadi terhenti, walaupun hanya sementara.
Inilah salah satu hikmah ujian. Allah seakan memberi jeda agar kita tidak terus tenggelam dalam dosa. Bahkan dalam kondisi seperti itu, kita justru lebih dekat dengan ketaatan, lebih banyak diam, istirahat, atau bahkan ingat kepada Allah.
Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR Al-Bukhari: 5641 dan Muslim: 2573).
Artinya, bukan hanya menghentikan maksiat, tapi juga menjadi sebab dihapusnya dosa.
Jadi, jangan selalu melihat ujian sebagai sesuatu yang buruk. Bisa jadi, di balik itu Allah sedang menyelamatkan kita dari dosa yang lebih besar. Mulai sekarang, saat diuji, coba renungkan, mungkin ini cara Allah agar kita berhenti dan kembali.
Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.(KHB/Red)***














