RISALAH – KABAR MERDEKA | Mudik sering dianggap sebagai puncak kebahagiaan saat lebaran. Namun, pernahkah kita merenung: apakah perjalanan itu benar-benar dilandasi niat ibadah silaturahmi atau sekadar mengikuti tradisi dan gengsi semata?
Dalam Islam, silaturahmi adalah ibadah mulia untuk mencari ridha Allah, bukan ajang pamer keberhasilan atau sekadar membalas kebaikan orang lain. Bahkan, hakikat silaturahmi yang sebenarnya adalah menyambung kembali hubungan yang telah terputus.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahmi.” (HR Bukhari: 5985 dan Muslim: 2557).
Karena itu, silaturahmi tidak harus terikat dengan momen mudik atau hari raya saja. Silaturahmi dapat dilakukan kapan saja sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan bakti kepada kedua orang tua.
Semoga Allah ﷻ membimbing kita untuk memahami hakikat silaturahmi dengan benar, menjadikannya sebagai jalan meraih rida-Nya, serta menghiasi hubungan keluarga kita dengan keikhlasan dan keberkahan.***
Hakikat Mudik Silaturahmi yang Sesungguhnya












