RISALAH – KABAR MERDEKA | Setiap pemimpin pasti memiliki kekurangan. Namun, Islam mengajarkan kita untuk tetap menjaga adab ketika menasihati mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (QS An-Naḥl [16]: 125).
Ayat ini menjadi landasan bahwa dalam menyampaikan nasihat harus dengan hikmah, kelembutan, dan cara yang terbaik.
Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya:
“Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa tentang sesuatu urusan, maka janganlah ia tampakkan nasehatnya itu kepadanya secara terang-terangan (di depan umum). Akan tetapi hendaklah ia memegang tangannya, lalu ia bersembunyi dengannya (yakni nasehati dia secara sembunyi tidak ada yang mengetahuinya kecuali engkau dan dia). Maka kalau dia menerima nasehatnya, maka itulah (yang dikehendaki). Tetapi kalau dia tidak mau menerima nasehatnya, maka sesungguhnya ia telah menunaikan kewajiban menasehatinya.” (HR Ahmad 3/403).
Hadits ini menegaskan bahwa nasihat kepada pemimpin harus dilakukan dengan santun, penuh adab, dan sebaiknya secara pribadi. Bukan dengan cara menghina atau menghasut orang lain untuk membenci.
Mari kita amalkan adab yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah dalam menasihati pemimpin. Dengan cara yang baik, semoga nasihat kita lebih mudah diterima, dan kita pun terlepas dari tanggung jawab di hadapan Allah.(KHB/LG)***











