Salah satu cara untuk mendekatkan jiwa raga kita kepada Alloh Subhanahu Wata’ala yaitu dengan perantaraan (tawasul) menggunakan asma’ul husna. Hal ini berdasarkan dalil Alquran suroh Al A’raf ayat 180 Alloh berfirman : Walillaahil asmaa’ul husna fad ‘uuhu bihaa (Dan Alloh itu mempunyai nama – nama yang indah/asma’ul husna, maka berdoalah kamu kepadaNya dengan menyebut nama – nama itu).
Bahwa di dalam syari’at islam bertawasul itu ada tiga cara :
1. Bertawasul dengan asma’ul husna
2. Bertawasul dengan amal soleh
3. Bertawasul dengan doa orang
soleh
Melalui artikel ini saya ingin berbagi manhaj atau metode berdoa dengan menggunakan asma’ul husna.
Ma’asyirol muslimin!
Sesungguhnya Alloh memberi rizki kepada siapa saja tanpa perhitungan. Kepada siapa saja! Artinya semua makhluk penghuni planet bumi ini. Alquran suroh Ali Imran ayat 27 menegaskan :
WATARZUKU MAN TASYAA-U BIGHOIRI HISAAB (Dan Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan).
Barang siapa yang ingin dilapangkan rezeki, ingin diberi tambahan bonus rezeki dari yang sudah ditetapkan Alloh, maka mintalah kepadaNya dengan cara wirid atau dzikir Ya Fattahu Ya Baasithu. Ya Fattaahu (yang Maha membukakan), Ya Baasithu (yang Maha Melapangkan/meluaskan rizki).
Dengan mengamalkannya secara ikhlas,ihsan,khusyu,tawadu dan istikomah insyaAlloh akan membuat diri kita kreatif, Alloh akan membuka jalan usaha atau pekerjaan untuk penghidupan kita.
Dzikir asma’ul husna Ya Fattaahu Ya Baasithu dapat dilaksanakan kapan saja, dengan jumlah bilangan sesuai kemampuan kita. Karena dzikir yang kita laksanakan ini adalah dzikir mutlak, yang waktu dan jumlah bilangan wiridnya tidak ada ketentuan nash – nya dari Nabi Shollalloohu ‘alaihi wasallam. Namun yang perlu dilakukan, dalam pelaksanaannya harus ikhlas dan ihsan.Ikhlas artinya memurnikan ibadah hanya kepada Alloh, sedangkan ihsan adalah kita senantiasa selalu merasa diperhatikan oleh Alloh Subhanahu wata’ala. Alloh menegaskan (Albaqarah 85) : WAMALLOOHU BIGHOOFILIN ‘AMMAA TA’MALUUN ( Dan Alloh tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan).***
@Artikel ini ditulis oleh Lili Guntur | Pembina Yayasan Padepokan Bratalegawa
Referensi :
1. Al Quranul Karim
2. Buku Al ‘Aqoidul Islamiah,karya
Sayid Sabiq (Guru Besar di Univer
sitas Al Azhar),terj.Oleh Moh.Abdai Rathomy dengan judul Aqidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman, CV.Diponegoro,Bandung, 1992.
3. Buku Mujahadah Asma’ul Husna Mencapai Kememangan dan Ketenangan Jiwa,karya Masruri, CV.Gunung Mas,Pekalongan,1996













