Oleh : Yasri Yusniarti, S.ikom
Praktik politik uang, serangan fajar, yang akhirnya melahirkan koruptor terpampang nyata di hadapan rakyat. Praktik ini akhirnya memunculkan para pemimpin yang hanya peduli kepentingan pribadi dan golongan, bukan masyarakat yang memilihnya.
Dia merasa berkewajiban mencari keuntungan dari jabatannya, salah satunya untuk mengembalikan modal yang keluar dalam kampanye.
Akhirnya setelah menjabat, dia akan melakukan berbagai kecurangan, menerima suap, gratifikasi atau korupsi lainnya dengan berbagai macam bentuk. Tidak heran jika politik uang disebut sebagai induknya korupsi.
Waspadai pelaku yang melakukan praktik politik uang. Stop rakyat untuk mengapresiasi itu, agar politik uang gak lagi jadi budaya dan terkikis perlahan.
Penilaian Teh Yasri, Kang Sahrul menyapa masyarakat walau dengan modal senyum someah dan apa adanya dirasa lebih aman ketika menjabat karena tidak dibebani utang modal kampanye yang begitu besar.
Hayu Akang, Teteh, hukum pelaku praktik politik uang dengan “Ambil Uangnya, Jangan Coblos Orangnya”













