Dalam kitab Irsyadul ‘Ibad dikisahkan, seorang soleh menguburkan saudara perempuannya yang meninggal. Ia tidak sadar kalau saat mengubur dompetnya jatuh dan ikut terkubur. Hingga pulang ia baru sadar. Maka bergegaslah ia kembali ke kuburan untuk menggalinya.
Setelah menggalinya bukan main terkejutnya karena di dalam kuburan itu ia melihat api menyala, maka segeralah ditutup kembali. Lalu pulang ke rumah dengan perasaan sedih seraya bertanya kepada ibunya; “Wahai ibu beritahukan padaku apakah amal saudaraku itu?” Ibunya balik bertanya,”Mengapa kamu tanyakan hal itu?” Maka dijawab,”Wahai ibu,saya telah melihat kuburnya menyala api.”
Seketika ibunya menangis dan berkata,”Saudaramu itu biasa lalai, suka menunda-nunda shalat.”
Masih dalam Irsyadul ‘Ibad, bahwa azab kubur yang menimpa seseorang yang biasa lalai dalam melaksanakan shalat, akan didatangkan padanya seekor ular yang bernama Syuja’ul ‘Aqra. Matanya buta mengeluarkan api, kukunya sekeras besi yang panjangnya setara perjalanan sehari, kepada si mayit ia berkata,”Akulah Syuja’ul ‘Aqra!” Suaranya menggelegar bagaikan petir membelah bumi. Lalu ia berkata lagi,”Allah menyuruhku memukul kamu karena kamu sering meninggalkan shalat subuh hingga terbit matahari, dan aku akan memukul kamu karena menunda shalat dzuhur hingga datang waktu asar ,dan memukul kamu karena menunda shalat magrib hingga isya, dan memukul kamu karena menunda shalat isya hingga subuh.” Begitu sesumbarnya Syuja’ul ‘Aqra. Tiap satu kali pukulan terbenamlah si mayit itu ke dalam tanah sedalam tujuh puluh hasta. Dan itu terus menerus sehingga si mayit dalam keadaan tersiksa di alam barzah hingga datang hari kiamat. Na’udzubillah!
Nanti setelah kiamat yakni di alam akherat, di neraka jahanam ada jurang yang sangat mengerikan, namanya Wail. Jurang itu diperuntukkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala bagi orang-orang yang shalat tapi suka menunda – nunda waktunya karena berbagai alasan kesibukan duniawi tanpa memperhatikan kemurkaan Allah. Mereka lalai terhadap perintah Allah sebagaimana Allah berfirman dalam Al Quran surat Thahaa ayat 126 yang artinya : “Demikianlah dahulu telah datang kepadamu ayat – ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.”
Artinya,selain dikatakan kepada orang kafir ayat tersebut juga ditujukan kepada orang yang tidak membaca Al Quran dan lalai melaksanakan shalat. Seolah mereka punya telinga tapi tidak mendengar, punya hati tapi keras, punya mata tapi tidak melihat. Telinga mereka dipenuhi suara musik, nyanyian dijadikan Al Quran, kafe-kafe dan tempat hiburan pengganti masjid. Mereka hidup sudah menjadi budak syahwat, menuruti hawa nafsu. Allah Subhanahu Wata’ala telah menginatkan dalam Al Quran surat Maryam ayat 59 yang artinya : “Kemudian datanglah setelah mereka pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti kesenangannya, maka mereka kelak akan tersesat.”
Shalat menjadi tanda keimanan seseorang. Shalat akan jadi penerang di alam kubur. Ketika shalat kita bagus maka shalat menjadikan pikiran cerah, hati tenang, dan hidup tentram dalam kebahagiaan dan kemudahan.
Mulailah bangun pagi dengan diawali shalat dan malam harinya sebelum tidur ditutup pula dengan shalat. InsyaAllah hal itu akan mendatangkan berkah dan keridhoan Allah Subhanahu Wata’ala.
Shalat harus dilatih sejak dari kecil sehingga ketika dewasa tidak lalai terhadap waktu – waktunya dan terbiasa shalat berjamaah di masjid yang menjadi penuntun ke surga. Semoga Allah memberi kekuatan iman agar kita istiqamah menjaga dan mendirikan shalat tepat waktu dengan penuh keikhlasan.***
Penulis :
Lili Guntur, Pemimpin Redaksi KabarMerdekaNews.Com,Pembina Yayasan Padepokan Bratalegawa













