RISALAH – KABAR MERDEKA | Sebagian orang merasa dirinya cerdas karena menemukan celah untuk menghindari aturan agama. Demi menuruti hawa nafsu, ia mencari berbagai siasat agar terlihat tidak melanggar syariat. Padahal, yang ia tipu hanyalah dirinya sendiri, karena Allah ﷻ mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Allah ﷻ berfirman:
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali.” (QS An-Nisā’ [4]: 142).
Mengakali syariat tidak akan mengubah hukum Allah. Seseorang mungkin merasa berhasil mencari jalan pintas untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi pada akhirnya justru terjerat oleh akibat perbuatannya sendiri.
Sikap seperti ini menyerupai kaum Yahudi yang mengakali larangan Allah pada hari Sabtu, ketika mereka dilarang menangkap ikan. Mereka memasang jaring sebelum hari Sabtu dan mengambil ikannya setelah hari itu berlalu agar seolah-olah tidak melanggar perintah Allah. Namun, tipu daya itu tidak bermanfaat sedikit pun di hadapan Allah.
Karena itu, jangan pernah menggadaikan ketaatan demi kesenangan sesaat. Kita mungkin bisa mengelabui manusia, tetapi tidak akan pernah bisa mengelabui Allah ﷻ. Ketaatan sejati adalah menerima syariat dengan penuh ketundukan, bukan mencari celah untuk menghindarinya.
Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.***










