RISALAH – KABAR MERDEKA | Sering kali ketika diuji, manusia sibuk bertanya, “Kenapa harus saya?” “Kenapa hidup saya begini?” Padahal semakin banyak hati memprotes takdir Allah, semakin sempit dan gelisah hidup yang dirasakan.
Allah tidak pernah salah dalam menetapkan sesuatu untuk hamba-Nya. Tugas kita bukan memprotes keputusan Allah, tetapi belajar ridha dan mengambil pelajaran dari setiap ujian yang terjadi.
Allah ﷻ berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ
“Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 216).
Orang yang terus menerus protes terhadap takdir tidak akan pernah merasa tenang. Sedangkan hati yang beriman akan belajar menerima, bersabar, dan berprasangka baik kepada Allah.
Beriman kepada qadar adalah bagian dari rukun iman. Apa pun yang Allah tetapkan, yakinlah selalu ada hikmah dan kebaikan di baliknya, meskipun hari ini kita belum memahaminya.
Semoga Allah memberikan hati yang ridha, sabar dalam ujian, dan selalu husnuzhan kepada-Nya.
Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.(khb/red)***













