KABAR MERDEKA |Ketika dihadapkan pada dua pilihan, milih jadi pejabat atau jadi wartawan?Kalau saya jujur saja,jawabannnya adalah milih jadi wartawan.
Dulu memang,ketika masih bersekolah di tingkat lanjutan punya cita-cita ingin jadi pegawai pemerintah atau Aparat Sipil Negara (ASN). Dan 13 tahun pernah punya pengalaman mengelola administrasi pemerintahan. Sehingga akhirnya pekerjaan tersebut harus saya tinggalkan dan lebih memilih profesi jadi jurnalis.
Sejak era pemerintahan orde baru sudah muncul julukan yang ditujukan kepada insan pers yang tidak enak ditelinga. Wartawan sering dijuluki dengan sebutan “nyamuk pers”, “wartawan bodrex”,”wartawan amplop”, “lalat”, “hayam”, “rametuk”, “gentayangan”. Yang mengatakan itu adalah oknum pejabat. Mereka seakan tidak suka dengan kehadiran wartawan,seolah aktivitasnya terusik dan terganggu.
Kenapa harus alergi terhadap kehadiran wartawan? Padahal menurut saya tugas wartawan itu sangat mulia. Wartawan adalah pembela rakyat. Wartawan bekerja berlandaskan Undang – undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Dia akan bekerja secara profesional.
Mengapa banyak oknum pejabat takut oleh wartawan? Mungkin karena oknum pejabat tersebut bermasalah terkait adanya dugaan penyelewengan anggaran sehingga dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran wartawan yang ingin melakukan konfirmasi. Itu masalahnya! Kalau merasa tidak punya masalah kenapa harus menghindar dari wartawan?
Dan saya ingatkan! Jangan sekate – kate menjuluki wartawan dengan sebutan yang tidak elok ditelinga. “Rametuklah”,”nyamuklah”, “gentayangan”,”hayam”, karena semua itu ada konsekuensinya!***
@liliguntur,Pemimpin Redaksi Media Online KabarMerdekaNews.Com













