BANDUNG – KABAR MERDEKA |Kata Ai Yanti, selaku Sohibul Hajat atau pribumi, bahwa hampir seluruh anggota warga A-III-84 diundang, seminggu sebelum hari H sekarang ini, malahan bersama Yeyet Suryati yang tengah duduk di sampingnya blusukan hingga hari menjelang Maghrib. Hanya saja dengan berbagai alasan mereka beserta takdir Tuhan kita harus berkumpul 50 Prosen dari jumlah seluruh anggota.
“Tidak apa-apa, kita-kita ini insyaallah mewakil Kelas IIIA-84 bahkan secara umum mewakili seluruh angkatan 1984. Semoga berkah dan ke depannya, bisa berkumpul secara keseluruhan.”demikian katanya. Semua yang hadirpun mengaminkan serta memaklumi kesibukan masing-masing. Sejenak mengheningkan cipta, untuk beberapa orang dari mereka yang telah berpulang ke haribaan Tuhan; Cece Arif, Hadri, Rohamedi, Asep Saeful Faruq, Sopandi, dan Mimin Mintarsih. “Semoga, senantiasa berada dalam kasih-sayang ridha dan ampunan-Nya.” Demikian geremang doa Ai Yanti beserta rekan-rekan.

Hari Sabtu tanggal 2, bulan Desember tersebut, sesungguhnya bertepatan dengan pertemuan di Bulan Desember 2022 tahun lalu. Berkumpul sederhana di rumah Ai Yanti yang berdomisili di Cibolang, Desa Cingcin Kecamatan Katapang, Soreang Bandung Jawa Barat. Tak banyak agenda, hanya bincang-bincang pengalaman sejuta kangen seribu rindu, ngopi dan makan lesehan. Apalagi di antara mereka, terdapat satu orang warga III A-84 yang baru saja mengikuti kegiatan reunian tersebut, setelah hampir 40 tahun saling tak bertemu, yaitu Fia Nana Karfia dari Cikopo Parungserab Kecamatan Soreang Bandung. Seolah diketemukannya anak hilang selama 40 tahun.
“Inilah dia Si Anak III A-84 yang lama hilang jejak.” kata Eko dari Pangauban dengan sorak-soul dari rekan lainnya. Sedang Fia N Karfia hanya tertawa membahana; maapkan saya, para bladers. Maklum memory di kepala saya telah buram diselimuti embun problema dan liku hidup selama ini.”tukasnya dengan tawa renyah memburaykan suasana.

Sesungguhnya kegiatan rutin reunian tersebut, sangat bermanfaat membentuk jiwa persahabatan bukan sekedar kumpul-kumpul tanpa tujuan, kata Eko kemudian, dengan peraminan serius dari Bah Elan, Bah H. Sobana, Bah Agus, Bah Dadang, Bah Andan juga Bah Nanang. “Kita kini, jadi punya gelar elegan sebagai ‘abah’, kata Bah Elan dengan tawa renyahnya.
Ikatan tali persaudaraan sekaligus bertadabur alam lewat pengamatan luncuran usia adalah keberkahan luar biasa, karena dengannya, dapat berkumpul menjangkau usia ke 40 setelah meninggalkan hiruk-pikuk dunia putih-biru, demikian seru Eko alias Engkos Koswara.
“Kecuali dari itu, kita harus tetap mengagendakan pertemuan ini. Kita bisa mengenang kehidupan lawas selama di IIIA-84 untuk dijadikan modal memperbaiki agenda hidup dan kehidupan kita.”kata Hj. Leni Susilawati dari Junti, dan dibenarkan oleh Imas Masitoh dari Cingcin, Yeyet Suryati dari Gandasoli juga Idoh Hapidoh dari KBB. Kegiatan reunian ini, dimulai sebenarnya dari pagi-pagi, namun akhirnya mereka harus rela saling menunggu. Tentu, oleh karena keberadaan masing-masing mereka yang ‘bertenggangan’ satu sama lainnya. Ada yang masih tetap berdomisili di kampung halamannya sendiri, dan ada pula yang mengembara di berbagai daerah seperti di luar pulau Jawa bahkan di Arab Saudi. Dan mereka yang berdomisili di kampungnya hingga saat ini sontak saja jadi olok-olokkan rekan lainnya; mosso, koq laki-laki berkaki gak bisa berkelana ke luar rumah, nah itu sindir Bah Elan dengan tawa renyahnya.
“Yang penting adalah keberkahan, semoga senantiasa berada di bawah lindungan taufik dan hidayah-Nya,” kata Bah Agus, syahdu, dengan peraminan serius dari Yeyet Suryati dan Hj. Leni. Sedangkan Fia Nana Karfia bertutur bahwa kegiatan reunian alumni terkhusus IIIA-84 harus sejalan dengan dunia cerpen atau cerita pendek; 1. Adanya unsur Imformations, memberi kabar hangat untuk kebaikan serta pengetahuan secara umum. 2. Adanya unsur educations, yaitu mendidik, bersilaturahmi serta bersedekah. 3. Adanya unsur intertainment, unsur menghibur pembaca atau anggota pertemuan alumni.
Mengutip beberapa statement alumni beserta mantan pengajar SMPN Katapang telah menelurkan beberapa pesohor papan atas, dari kalangan artis sebut saja Iis Dahlia, Iis Ariska juga Euis Darliah. Lahir juga para mekanik, para pengajar, pengarang dan penulis, caleg serta profesi lainnya. Hal yang harus kita junjung kata Ai Yanti juga Idoh Hapidoh, adalah jangan berhenti menghormati eksistensi guru atau pengajar karena mereka adalah orangtua kedua kita. Baik itu guru ngaji SD, SMP, SMA hingga guru yang lebih tinggi lagi. Dan hidup senantiasa harus terus berguru, meskipun kita notabene seorang guru. Kita ini murid akan tetapi kita juga adalah guru, demikian tutur Ai Yanti, serius tapi santai. Pertemuan warga IIIA-84 berlangsung hingga ujung siang dengan agenda pertemuan ke depan setelah hari raya Lebaran, insyaalloh.***(Emha Ubaidillah)













