KABAR MERDEKA | Kalau Anda ingin bahagia dan mendapat berkah serta kemaslahatan hidup fiddun-ya wal akhirat serta nikmat yang banyak, kuncinya adalah 1)Banyak – banyaklah bersyukur,2)Banyak-banyaklah beristigfar, 3)Banyak -banyaklah/dawam dzikir dengan doa karab. Allah SWT berfirman : “Lain syakartum la-ajiidan nakum”(Jika kamu sekalian bersyukur ,maka Kami (Alloh) akan memberikan tambahan nikmat kepada kamu sekalian).” (Qs.Ibramin ayat 7).
Hakekat syukur adalah memuji terhadap yang memberikan kebaikan dengan mengingat segala kebaikannya. Syukurnya hamba kepada Alloh adalah memuji kepada-Nya dengan mengingat segala bentuk kebaikan-Nya. Perbuatan baik hamba adalah taat kepada Alloh,adapun perbuatan baik Alloh adalah memberikan kenikmatan dan segala bentuk pertolongan sebagai buah tanda syukurnya hamba.
Syukurnya hamba kepada Alloh dimanipestasikan dalam ucapan lisan dan pengakuan hati terhadap segala kenikmatan yang telah diberikan Alloh .
Penulis kitab Arrisyalatul Qusyairiyah fi ‘Ilmit Tashawwuf,Abul Qasim Abdul Karim Hawazin, membagi syukur dalam tiga bagian. 1.Syukur dengan lisan,yakni mengakui kenikmatan yang telah diberikan Alloh SWT dengan sikap merendahkan diri (tidak jumawa). 2. Syukur dengan badan,yakni bersikap selalu taat untuk mengabdi (menghambakan diri) kepada Alloh melaksanakan ibadah, baik yang mahdoh maupun yang ghoir mahdoh. 3. Syukur dengan hati, yakni tetap teguh menjaga keagungan-Nya.
Abul Qasim menjelaskan, syukur dengan lisan adalah syukurnya orang yang berilmu. Ini dapat direalisasikan dalam bentuk ucapan. Syukur dengan badan adalah syukurnya orang yang taat beribadah. Ini dapat direalisasikan dalam bentuk perbuatan. Syukur dengan hati adalah syukurnya orang yang ahli ma’rifat (mengenal Alloh dengan mata batin). Ini dapat direalisasikan dengan semua hal ihwal secara konsisten.
Syukur mengandung arti yakni menggunakan segala potensi pemberian Alloh di jalan yang benar dan dengan sebaik – baiknya. Kita diberi tubuh dengan anggota badan yang lengkap (mata,hidung,mulut, telinga,tangan,kaki, dan yang lainnya). Maka kita patut mensyukurinya.
Yang dimaksud syukurnya kedua mata adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita lihat, sedangkan yang dimaksud syukurnya kedua telinga adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita dengar.
Sudah menjadi sunnatulloh bahwa dalam kehidupannya manusia akan diuji dengan ujian yang baik (menyenangkan) dan ujian yang buruk (tidak menyenangkan). Alloh SWT berfirman : “Kami akan menguji dan (memberikan) cobaan terhadap kalian dengan keburukan dan kebaikan”(QS.Al-Anbiya ayat 35).
Ujian yang buruk ada yang sifatnya ringan ada pula yang berat, seperti ; tertusuk duri,susah tidur,gelisah,kehilangan,kecopetan, duka cita, kesulitan hidup,dan sebagainya. Namun betapa banyaknya nikmat yang Alloh berikan sebagaimana juga banyaknya cobaan dan ujian Alloh yang buruk.
Dengan adanya cobaan Alloh yang baik dan yang buruk (yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan) akan memperlihatkan bagaimana perilaku seorang mukmin ketika diuji. Apakah dalam menghadapi ujian tersebut ia akan menghadapinya sesuai tungtunan Alloh dan Rosul? Atau bertentangan?
Seorang mukmin ketika mendapat ujian hidup dia akan tetap bersyukur yang dimanifestasikan dalam bentuk tahan menderita, tabah,sabar dengan tetap berusaha mencari jalan keluar,bertawakal dan berserah diri. Senantiasa segala urusan dikembalikan kepada Alloh dengan mengucapkan kalimah istirja inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun , dengan terus memperbanyak dzikir dan istigfar sebagaimana syareat yang diajarkan Nabi Shollalloohu ‘alaihi wasallam, yakni memperbanyak/dawam mengucap doa karab (doa kemalangan) sebagaimana doanya Nabi Yunus AS ,laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadz dzoolimiin ( Tiada Tuhan malainkan Engkau,Mahasuci Engkau, sesungguhnya hamba-Mu termasuk golongan orang yang menganiaya diri sendiri – QS. Al-Anbiya,ayat 87). Dan bertobat dengan memperbanyak istigfar : Alloohummag firli zunuubi waftahlii abwaaba fadhlika (Ya Alloh ampunilah semua dosaku, dan buka kanlah pintu-pintu(karunia) rizkiMu untukku).(HR.At -Tirmidzi). Baarakallaahu lii walakum.***
Penulis : Lili Guntur













